PEMBUATAN SISTEM
PENYIRAMAN TANAMAN BIBIT SAWIT SECARA OTOMATIS BERBASIS
MIKROKONTROLER ATMEGA 8535
MIKROKONTROLER ATMEGA 8535
TUGAS AKHIR
Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
Pendidikan Program Diploma
Tiga
SWANDO
SIMARMATA
15410108

PROGRAM STUDI TEKNIK KOMPUTER
POLITEKNIK LP3I MEDAN
MEDAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Perkembangan
teknologi semnakin pesat, khususnya dibidang elektronika, membuat system yang
bekerja secara manual mulai ditinggalkan diganti dengan system yang otomatis.
Otomatis disegala bidang dapat mempermudahkan kerja manusia. Berdasarkan hal
tersebutmaka penulis merancang perancangan system penyiraman tanaman bibit
sawit secara otomatis berbasis mikrokontroler dengan memanfaatkan sensor
kelembapan tanah sebagai input, dan mkikrokontroler ATMega 8535 sebagai
pengendalinya.
Pada umumnya
para petani sawit dalam melakukan penyiraman tanman bibit sawit masih
menggunakan secara manual. Sehingga tingkat kebutuhan air yang dibutuhkan
masing-masing bibit sawit tidaklah sama. Jadi, hal ini berpengaruh pada
pertumbuhan dan kesuburan bibit-bibit sawit tersebut. Biasanya penyiraman
tanaman bibit sawit dilakukan mulai dari pembibitan sampai bibit sawit berusia
sekitar setahun. Tanaman kelapa sawit tumbuh didaerah ketinggian 1-500 m dari
permukaan laut. Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari, curah
1500-4000 mm, suhu optimal 24-28 oC. Kecepatan angin 5-6 km/jam, kelembaban
optimal yang ideal 80-90 %. Nilai pH adalah 5,0-5,5. Jenis tanah untuk sawit
adalah padzolik, latosol, hidromofik kelabu, alluvial, atau ilegosol. Untuk
pembibitan utama (main nursery) penyiraman membutuhkan air sekitar 9-18
liter/minggu untuk setiap bibit. Kadar air untuk pepmbibitan jenis tanah
ultisol adalah 6,3 %(Kiswanto dkk, 2008). Pada penelitian sebelumnya,
pengontrolan penyiraman tanaman dilakukan secara otomatis hanya menggunakan
rangkaian monitor kelembaban dan rangkaian relay saja. Input yang digunakan
adalah menggunakan dua buah probe untuk mengindra kelembaban tanah. Kelemahan
alat ini adalah tidak bias menampilkan berapa persentase kelembaban pada saat
menyiram, alat ini hanya bias memonitor dengan menggunakan lampu LED indicator.
Pada penelitian itu tidak memakai LCD untuk menampilkan kelembaban(Akustia,
2007).
Jadi,
untuk itu penulis menawarkan sebuah system elektronik yang menjadi solusi dari
permasalahan penyiraman tanaman bibit sawit yang telah dikemukakan sebelumnya.
Kelebiahan alat ini adalah bias menampilkan beberapa kelembaban tanah melalui
LCD, menggunakan sensor kelembaban tanah 808HV5. Sehubungan dengan hal
tersebut, maka untuk menyelesaikan tugas akhir dibuatlah system penyiraman
tanaman bibit sawit secara otomatis. Hal ini disusun dalam bentuk penulisan
Tugas Akhir dengan judul “PEMBUATAN SISTEM PENYIRAMAN TANAMAN BIBIT SAWIT
SECARA OTOMATIS BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 8535” .
1.2 Rumusan
Masalah
Masalah yang
diangkat pada Tugas Akhir ini adalah merancangan suatu system penyiraman
tanaman bibit sawit secara otomatis menggunakan sensor kelembaban tanah berbasis
mikrokontroler ATMega 8535.
1.3 Batasan
Masalah
`Dalam penelitian ini pembahasan
dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:
1.
Lokasi pembibitan sawit
terjangkau oleh jaringan PLN.
2.
Sebagai detector menggunakan sensor kelembaban tanah.
3.
Alat yang digunakan hanya sampai skala prototype.
4.
Aplkasi digunakan pada pembibitan tanaman sawit.
1.4 Tujuan
Tujuan Tugas
Akhir ini adalah mampu merancang dan mengimplementasikan system penyiraman
tanaman bibit sawit secara otomatis menggunakan sensor kelembaban tanah dengan
memandaatkan mikrokontroler ATMega 8535 sebagai penendalinya.
1.5 Manfaat
Penelitian
a.
Bagi peniliti. Memperdalam pengetahuan tentang
peneletian penyiraman tanaman
bibit sawit secara otomatis.
b.
Bagi PTPN. Mempermudah penyiraman bibit sawit dan tidak perlu memerlukan karyawan lagi untuk
menyiram tanaman bibit sawit.
c.
Bagi petani sawit. Berkurangnya pekerjaan dan bias
mengerjakan pekerjaan yang lain.
d.
Bagi kampus LP3I. membantu perkembangan ilmu
pengetahuan dalam kajian keilmuan dan perkembangan teknologi.
1.6 Sistematika
Penulisan
Agar susunan
nya lebih trstruktur, dalam penulisan laporan Tugas Akhir ini dibagi dalam lima
bab yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
Bab
pendahuluan berisi hal-hal yang melatar belakangi pemilihan judul Tugas
Akhir,tujuan pembuatan TugasAkhir, rumusan masalah, batasan-batasannya,
metodelogi penelitian, serta sistematika penulisan laporan.
BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini
dikemukakan teori-teori yang digunakan
sebagai landasan dalam proses perancangan serta pembuatan tugas akhir.
Diantaranya mengenai sensor kelembaban tanah, mikrokontroler ATMega8535,
penggerak relay, dan catu daya.
BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT
Pada bab ini menguraikan tahap
desain system sehingga pembuatan rangka mekanik, rangkaian elektronika serta
pemogramannya.
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS
Pada bagian
pengujian ditampilkan data-data hasil pengukuran dari system yang telah dibuat. Pada bab ini juga
dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh.
BAB V PENUTUP
Bagian penutup
berisi kesimpulan dan saran yang menjelaskan secara ringkas hasil yang dicapai
selain itu juga dikemukakan saran-saran yang sebaiknya dilakukan untuk
perbaikan di masa yang akan datang.
BAB II
LANDASAN TEORI
LANDASAN TEORI
2.1 Mikrokontroler
Perkembangan teknologi telah maju
dengan pesat dalam perkembangan dunia elektronika, khususnya dunia
mikroelektronika. Penemuan silicon menyebabkan bidang ini mampu memberikan
sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan teknologi modern. Atmel salah
satu vendor yang mengembangkan dan memasarkan produk mikroelektronika telah
menjadi satu teknologi standar bagi para desainer system elektronika masa kini.
Dengan perkembangan terakhir, yaitu generasi AVR(Alf and Vegard’s Risc Processor), para desainer system elektronika
telah diberi suatu teknologi yang memiliki kapabilitas yang sangat maju, tetapi
dengan biaya ekonomis yang cukup minimal.
Mikrokontroler
AVR memiliki arsitektur RISC 8 bit, dimana semua intruksi dikemas dalam kode
16-bit(16-bits word) dan sebagian
besar intruksi dieksekusi dalam satu siklus clock.
Tentu. Berbeda dengan intruksi MCS51 yang membutuhkan kode 12 siklus clock. Tentu saja itu terjadi karena
kedua jenis mikrokontroler tersebut memiliki arsitektur yang berbeda. AVR
berteknologi RSIC (Reduced Instruction
Set Computing), sedangkan seri MCS51 berteknologi CISC (Complex Instruction Set Computing).
Secara umum AVR dapat dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu keluarga ATtiny,
keluarga AT90Sxx, keluarga ATMega, dan AT86RFxx. Pada dasarnya yang membedakan
masing-masing kelas adalah memori, peripheral dan fungsinya. Dari segi
arsitektur dan intuksi yang digunakan bias dikatan hampir sama (Wardhana 2006).
2.2 Sensor Kelembapan Tanah
Sensor
kelembapan 808H5V5 merupakan sensor yang
bisa mengukur/mengetahui beberapa nilai kelembapan yang ada pada tanah. Sensor
kelembapan 808H5V5 beroperasi pada kelembapan 0-100 %. Pada saat tanah kering
0-80 % pompa akan menyala, pada saat
tanah sedang antara 80-85 % pompa tidak
akan menyala, dan pada saat tanah basah yaitu antara 85-100 % pompa juga tidak
akan menyala. Tegangan yang akan diberikan pada sensor kelembapan 808H5V5
adalah 5 volt DC.
Sensor kelembapan 808H5V5 diletakan
didalam tanah dengan kedalaman ± 15 cm. sensor akan membaca nilai kelembapan tanah, dan akan
mengeluarkan tegangan yang dimasukkan sebagai masukan ADC mikrokontroler
ATMega853 kemudian menampilkan ke LCD. Jika kelembapan tanah dirasa kurang
(diatur nilai sebelumnya) maka mikrokontroler ATMega 8535 akan memerintahkan
pompa akan menyala. Pengaturan ini akan dilakukan pada pemograman Bascom AVR.
2.3 LCD (Liquid Crystal Display)
Liguid Crystal atau Kristal cair. Molekul-molekul
benda padat tersebar secara teratur dan posisinya tidak berubah-ubah, sedangkan
molekul-molekul zat cair letak dan posisinya tidak teratur karena dapat
bergerak acak ke segala arah.
Bentuk paling sederhana dari
teknologi LCD ini dapat dikalkulator sederhana, atau petunjuk waktu (timer)
pada microwave, atau tampilan jam digital. Bentuk paling canggih yang masih
terdapat disekeliling kita ada pada layar monitor computer dan televisi.Dalam
pembuatan miniatur system penyiraman bibit sawit secara otomatis ini, akan
digunakan LCD untuk menampilkan besar kelembapan tanah. Misalnya kadar air
kering antara 0-80%, kadar air basah 80-85%, dan kadar jenuh air 85-100%.
2.4 Relay
Relay adalah komponen yang berfungsi
untuk pemutus arus. Relay dioperasikan sebagai saklar (Switch) listrik
yang bermanfaat untuk control jarak jauh. Relay akan bekerja jika ada masukan
sinyal listrik berupa arus dan tegangan. Pada relay terdapat dua bagian utama
yaitu koil dan kontak. Koil terdiri dari kumpulan yang merupakan lilitan kawat
tembaga, dimana kumpulan tersebut akan di aliri arus listrik agar dapat
menghasilkan medan magnet pada inti besi. Inti besi dan koil juga memiliki
jangkar yang terbuat dari besi lunak yang digunakan untuk mengaktifkan kontak.
Tegangan relay ada 9 volt, 12 volt, dan 24 volt, kegunaan relay untuk mempraktiskan rangkaian hanya cukup 1, relay juga dibuat merelay arus listrik
tegangan tinggi (PLN), relay juga bisa dipakai memperlambat audio, relay juga
bisa dirangkai untuk menghidupkan arus listrik.
2.5 Catu Daya
Rangkaian catu
daya berfungsi untuk memberikan suplai tegangan ke rangkaian system. Pada
system ini catu daya yang digunakan adalah +5 VDC dan +9 VDC. Untuk menjaga
agar tegangan bernilai konstan maka diperlukan IC regulator yaitu IC AN7805 dan IC AN7809. IC regulator biasanya terdiri dari tiga pin yaitu input, ground dan output. Pada rangkaian catu
daya ini terdapat diode yang berfungsi sebagai panyarah gelombang penuh dari AC
ke DC dengan arus sebesar 1 Ampere dan
biasanya output dari rangkaian diberi
suatu filter kapasistor untuk
menghilangkan riak sehingga diperoleh tegangan yang stabil.
2.6 Motor Listrik
Motor
listrik termasuk kedalam kategori mesin listrik dinamis dan merupakan sebuah
perangkat elektromagnetik yang mengubah energy listrik menjadi energy mekanik.
Energy mekanik ini digunakan untuk memutar impeller pompa, fan atau blower,
menggerakkan kompresor dll. Bagian ini menjelaskan tentang dua jenis utama
motor listrik yaitu motor AC dan motor DC. Motor tersebut diklasifikasikan
berdasarkan masukan input, kontruksi, dan mekanisme operasi. Motor AC/arus
bolak-balik menggunakan arus listrik yang membalikkan arahnya secara teratur
pada tentang waktu tertentu. Motor listrik AC memiliki dua buah dasar bagian
listrik yaitu stator dan rotor.
Stator
merupakan komponen listrik statis. Rotor merupakan komponen listrik berputar
untuk menukar as motor. Keuntungan utama motor DC terhadap motor AC adalah
bahwa kecepatan motor AC lebih sulit dikendalikan. Untuk mengatasi kerugian
ini, motor AC dapat dilengkapi dengan penggerak frekwensi variable untuk
meningkatkan kendali kecepatan sekaligus menurunkan dayanya. Motor induksi AC
cukup murah dan juga memberikan rasio daya terhadap berat yang cukup tinggi.
Motor
DC/motor arus searah, sebagaimana namanya menggunakan arus langsung yang tidak
langsung. Motor DC digunakan pada penggunaan khusus dimana diperlukan penyalaan
torque yang tinggi. Motor DC ini tersedia dalam banyak ukuran namun
penggunaannya pada umumnya dibatasi untuk beberapa penggunaan berkecepatan
rendah, penggunaan daya rendah hingga sedang seperti peralatan mesin dan
rolling mills, sebab sering terjadi masalah dengan perubahan arah arus listrik
mekanis pada ukuran yang lebih besar. Motor tersebut dibatasi hanya untuk
penggunaan di area yang bersih dan tidak berbahaya sebab resiko percikan api
pada sikatnya. Motor DC juga relative mahal disbanding motor AC.
2.7 Bascom AVR
Mikrokontroler
merupakan Chip cerdas yang menjadi tren dalam pengendalian dan otomatisasi,
terutama dikalangan mahasiswa. Dengan banyak jenis keluarga, kapasitas memori
dan berbagai fitur, mikrokontroler menjadi pilihan dalam aplikasi prosesor mini
untuk pengendalian skala kecil, oleh karena itu mikrokontroler membutuhkan
sebuah perintah atau yang bisa disebut bahasa pemograman.
Complier adalah suatu Software yang
digunakan untuk mengubah listing program yang kita buat menjadi suatu file yang
dapat dibaca sekaligus dijalankan oleh mikrokontroler. Dalam hal ini program
di-complie menjadi file *.hex.BASCOM dikembangkan
oleh MCS electronics, dan merupakan
BASIC complier. Program yang dibuat
dalam bahasa BASIC, akan di-complie menjadi
machine code, kemudian dimasukkan
kedalam mikrokontoler melalui sebuah Programmer.
2.8 PonyProg2000
Software PonyProg2000 adalah Software
gratis yang berfungsi men-download file hexa ke flash memori ATMega 8535.
Sebenarnya program tersebut selain untuk jenis AVR ATMega 8535 dapat juga untuk
jenis Atmel AVR yang lain. Hampir semua jenis AVR Atmel dapat di download
menggunakan software tersebut(Wardhana 2006)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan
Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di PTPN II Tanjung Morawa di mulai bulan maret sampai dengan
bulan juni 2018. Berikut ini adalah jadwal penelitian yang telah direncanakan
penulis.
Tabel 3.1 Jadwal
penelitian
No
|
kegiatan
|
maret
|
April
|
Mei
|
Juni
|
||||||||||||
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
||
1
|
Identifikasi masalah
|
||||||||||||||||
2
|
Analisis Kebutuhan sistem
|
||||||||||||||||
3
|
Pengumpulan Data
|
||||||||||||||||
4
|
Rancangan Penelitian
|
||||||||||||||||
5
|
Implementasi Aplikasi
|
||||||||||||||||
6
|
Pengujian Aplikasi
|
||||||||||||||||
7
|
Revisi Aplikasi
|
||||||||||||||||
8
|
Pemyusunan Laporan Penelitian
|
||||||||||||||||
9
|
Sidang
|
||||||||||||||||
Sumber penulis (2018)
3.2 Alat dan Bahan
Pada saat
melakukan proses perancangan,haruslah ditentukan alat yang digunakan. Pada
system ini, spesifikasi alat dibagi menjadi dua yaitu :
1.
Perangkat keras
2.
Perangkat computer
Perangkat Keras
Berikut ini
merupakan spesifikasi perangkat keras (Hardware) yang digunakan :
1. Sensor
kelembapan tanah 808H5V5
2. Mikrokontroler
ATMega 8535
3. LCD
4. Catu
daya dengan tegangan 12 volt dan 5 volt
5. Relay
Perangkat Komputer
Berikut ini
adalah spesifikasi perangkat lunak yang digunakan :
1. Program
Bascom AVR
2.
Program PonyProg 2000
3.3 Blok Diagram
Sistem
Adapun system yang akan saya rancang, khususnya untuk penyiraman tanaman
bibit sawit adalah berupa system yang bisa menggantikan pekerjaan manusia dalam
menyiram tanaman. Sebagaimana terlihat pada gambar blok diagram perancangan
sebagai berikut :

Gambar 3.1
Blok diagram perancangan system penyiraman tanaman otomatis.
Keterangan :
1. Sensor
kelembapan tanah akan mengirimkan data analog ke ADC
2. Mikrokontroler
ATMega 8535 berfungsi sebagai proses program yang sudah dimasukkan
3. Relay
berfungsi sebagai saklar pemutus dan penyambung arus
4. LCD
berfungsi sebagai penampil kelembapan
Berdasarkan blok
diagram perancangan diatas, dijelaskan
cara kerjanya bahwa, system ini dimulai dari input sensor kelembapan
tanah yang dihubungkan ke rangkaian mikrokontroler untuk diproses data digital
yang masuk pada rangkaian mikrokontroler. Selain itu mikrokontroler juga akan
memproses bahasa pemograman yang akan memerintahkan rangkaian relay yang
berfungsi sebagai saklar on/of, nantinya rangkaian ini akan mengatur hidup
matinya mesin pompa air berdasarkan perintah yang diterimanya dari
mikrokontroler.
Adapun bentuk
perintah dalam bahasa pemograman tersebut adalah seperti perintah, jika sensor
merasakan tanah dalam keadaan kering <80%, maka rangkaian mikrokontroler
langsung mengolah data untuk diproses, selanjutnya memerintahkan rangkaian
relay untuk aktif dan mesin pompa air juga bersamaan hidup untuk menyuplai air
yang akan digunakan untuk menyiram tanaman. Dan apabila sensor merasakan kelembapan
tanah >80%, rangkaian relay dan mesin pomp air akan berada dalam kondisi off
.
Proses
penyiraman tanaman ini akan terus bekerja secara otomatis dan diharapkan dapat
mengganti peran manusia dalam hal penyiraman tanaman, dan perkebunan/pembibitan
tanaman, serta menjadikan pekerjaan penyiraman tanaman yang semulanya banyak
yang dilakukan secara manual berubah menjadi sebuah system penyiraman tanaman
yang dilakukan secara otomatis. Untuk lebih jelasnya tentang rancangan
penyiraman tanaman otomatis dapat dilihat pada gambar 3.2 berikut.

Gambar
3.2 lay out penyiraman tanaman secara otomatis
Adapun tahapan dalam perancangan
system penyiraman tanaman bibit sawit secara otomatis ini, adalah penyiapan
perangkat elektronika, mekanik, seta pembuatan flowcarnya.
3.4 Diagram Alir

Gambar 3.3 Diagram Alir system
penyiraman bibit sawit secara otomatis
Berdasarkan
diagram alir pada gambar 3.3 diatas, dapat dijelaskan bahwa proses awal dari
alat ini adalah inisialisasi/pengaktifan semua rangkaian elektronik.
Selanjutnya sensor kelembapan tanah yang ditanamkan ketanah berfungsi sebagai
pemberi informasi berupa data tingkat kelembapan tanah pada tanaman bibit
sawit. Jika sensor kelembapan menyatakan tanah kurang lembap, mesin pompa air
segera hidup kemudian mengalirkan air ke pipa saluran air yang akan menyiram
tanman bibit sawit hingga kondisi tanah menjadi stabil yang ditentukan oleh
sensor kelembapan tanah yang terletak di sekitar bibit sawit. Setelah kondisi
tanah sudah menjadi lembab, maka mesin pompa air segera mati dan proses
penyiraman berhenti untuk sementara, hingga sensor kelembaban tanah kembali mendeteksi
adanya kelembapan tanah yang kurang, siklus dari proses penyiraman tanaman
bibit sawit ini akan terus berulang secara otomatis selama persediaan air dan
aliran listrik terus mengalir.
3.5 Tahap-tahap Perancangan
Perancangan
keseluruhan system dapat dibagi 2 bagian,yaitu perangkat keras dan perangkat
computer.
Tahap Perancangan Perangkat Keras
Dari blok system
yang telah dibuat maka dapat dibuat suatu perancangan perangkat keras.
Perangkat keras dilakukan agar perangkat keras yang direalisasikan dapat
mendukung system yang dibuat sehingga spesifikasi system yang dinginkan dapat
diperoleh.
Rangkaian Catu Daya
Rangkaian catu
daya dibutuhkan untuk memberikan daya pada rangkaian. Tegangan yang dibutuhkan
pada perancangan rangkaian ini adalah 5 volt untuk mikrokontroler, 5 volt untuk
sensor kelembapan tanah HV508HS5, dan 12 volt untuk penggerak relay. Untuk
menghasilkan tegangan yang stabil dibutuhkan sebuah IC regulator, untuk
tegangan 12 volt menggunakan IC LM7812.
Sumber daya pada prinsipnya terdiri dari empat bagian yaitu trafo,
penyarah, kondensator sebagai lapis lolos rendah dan regulasi elektronik.
Penyarah yang terdiri dari diode yang mengubah tegangan bolak-balik menjadi
tegangan searah, tetapi hasil dari penyarahan itu masih kurang konstan, artinya
masih mengalami perubahan periodikyang besar. Sebab itu diperlukan kondensator
sehingga tegangan tersebut cukup rata untuk diregulasi oleh rangkain regulasi
yang bisa menghasilkan tegangan DC yang baik dan konstan.
Rangkaian Sensor Kelembapan Tanah

Gambar 3.4 rangkaian
sensor kelembapan tanah
Rangkain ini
merupakan salah satu rangkaian dari sensor kelembapan tanah yang mana sensor
ini memiliki kaki 3, diantaranya dua untuk tegangan masukan, dan satu untuk
output keluaran. Dilihat dari gambar diatas, kaki satu untuk ground, kaki dua
untuk tegangan output, sedangkan kaki tiga untuk +5VDC. Output dari sensor
kelembapan ini akan masuk kerangkaian ADC mikrokontroler ATMega 8535.
Rangkaian Relay
Relay adalah komponen yang berfungsi sebagai saklar menggunakan arus
listrik ada yang 9 volt, 12 volt, dan 24 volt. Kegunaan relay untuk
mempraktiskan rangkaian hanya cukup satu. Relay juga dibuat me-relay arus
listrik tegangan tinggi (PLN), relay juga bisa dipakai untuk memperlambat
audio, relay juga bisa dipakai untuk menghidupkan arus listrik.

Gambar 3.5 Rangkaian
Relay(Delta elektronika.com)
Interface LCD Dengan Mikrokontroler
Hubungan LCD
dengan mikrokontroler tidak perlu lagi adanya tambahan hardware, melainkan
dapat dihubungkan dengan mikrokontroler secara langsung. Dalam pembuatan alat
ini akan digunakan LCD yang mempunyai karakter 2x16. Ini berarti LCD tersebut
mempunyai 2 baris dan 16 kolom dapat dilihat pada gambar 3.7

Gambar 3.7
Konfigurasi kaki LCD (LCD Module, 2008)
Perancangan Program Komputer
Perancangan
program komputer dilakukan agar program komputer yang
di-input-kan ke dalam
mikrokontroler ATMega 8535 dapat
mendukung sistem
yang dibuat sehingga spesifikasi
sistem yang diinginkan dapat diperoleh.
Subrutin Sensor Kelembapan
Subrutin
sensor pada program diatas adalah perintah DO merupakan salah satu perintah
awal pada program sedangkan start ADC adalah untuk memulai membaca data analog
yang akan diubah menjadi digital, pada perintah waitms adalah perintah yang
menyatakan selang waktu yang dibutuhkan ADC untuk membaca data analog yang
dikirim oleh bsensor. Pada kata getadc
merupakan perintah untuk pengenalan
input yang digunakan pada mikrokontroler ATMega 8535.
Subrutin Relay
Subrutin
pengujian relay untuk mengetahui apakah relay berfungsi dengan
baik, maka relay akan aktif bila
diberi tegangan 5 volt. Pengujian dapat dilakukan
dengan listing program sebagai
berikut :
Pompa = 0
Pompa = 1
Pompa padam
Pompa menyala
Subrutin LCD
Subrutin
pengujian LCD untuk mengetahui apakah LCD berfungsi dengan
baik, maka LCD akan aktif bila
diberi tegangan 5 volt. Pengujian dapat dilakukan
dengan listing program untuk
menampilkan tulisan pada layar LCD.
DAFTAR PUSTAKA
Akustia,
“Penyiraman Tanaman Otomatis Berbasis
PLC” Skripsi Teknik Elektro D3 Unri, Pekanbaru, 2007.
Budiharto
Widodo, “Elektronika Digital dan Mikroprosesor” Penerbit ANDI, Yogyakarta,
2005.
Bishop
Owen, “Dasar-dasar Elektronika” Penerbit Erlangga, Jakarta., 2004.
Elektronic
Delta, “808H5V5 Sensor Humidity Transmitter” [online] Avalable
http://www.delta-electronic.com/Design/Data%20Sheet/h5v5.pdf diakses 20 Januari
2010.
Kiswanto,
Jamhari Hadi Purwanta, Bambang
Wijayanto, “Teknologi Budidaya Kelapa Sawit” Balai Besar pengkajian dan Pengembangan
Teknologi Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor, 2008.
[online] Available
http://lampung.litbang.deptan.go.id/ind/images/stories/publikasi/sawit.pdf,
diakses 30 Desember 2010
Wardhana
Lingga, “Belajar Sendiri Mikrokontroler AVR seri ATMega 8535
Simulasi,
Hardware, dan Aplikasi” Andi, Yogyakarta, 2006.
Wicaksono
Handy, “Relay-Prinsip dan Aplikasi” [online] Avalable
http://learnautomation.files.wordpress.com/2008/06/modul-keseluruhanautomasi-1-1-bab-2.pdf,
diakses 15 Januari 2010.
Widyatmo.
A, Haryono. E, Fendy, “Belajar Mikroprocessor Mikrokontroler” Elekmedia
Komputindo, Jakarta, 1994.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Rancangan
Hasil
rancangan bangun prototype system penyiraman tanaman otomatis ini menggunakan
kontruksi kayu dan beberapa perangkat pendukung mekanik lainnya. Peralatan
elektronika dan program computer juga menjadi bagian dari keseluruhan system.
Untuk melakukan pengukuran dan analisa perlu dilakukan pengujian tersebut, yang
terdiri dari pengujian perangkat keras dan perangkat lunak.

Gambar
3.8 Hasil keseluruhan Rancangan
4.2 Pengujian
Rangkaian Elektronika
Pengujian
Rangkaian elektronika pada system penyiraman tanaman bibit sawit secara
otomatis berdasarkan objek yang terdeteksi. Dalam hal ini peralatan yang
digunakan adalah multitester digital.Setiap masukan dan keluaran dari tiap-tiap
blok rangkaian diuji satu persatu. Pengujian dilakukan dengan cara mengukur
tegangan masukan dan tegangan keluar pada setiap blok rangkaian tersebut.
4.3 Pengujian Sensor Kelembapan
Tabel
4.1 Hasil pengujian Sensor
No
|
Kelembapan(%)
|
Kondisi Pompa
|
1
|
0-79,9
|
Menyiram
|
2
|
8-100
|
Tidak
Menyiram
|
Dari table 4.1
pengujian sensor diatas terlihat bahwa, 0-79,9% keadaan pompa akan menyiram
sedangkan 80-100% pompa tidak akan menyiram.

Gambar 3.9 Tampilan LCD pada saat kadar air kering.
Gambar 3.9 diatas
menunjukkan bahwa pada saat kadar air kering 78,9%
relay dan pompa
akan aktif (menyiram).

Gambar 4.0Tampilan LCD pada saat kadar air basah.
Gambar 4.0 diatas
menunjukkan bahwa pada saat kadar air basah 84,9%relay dan pompa tidak aktif (
tidak menyiram).

Gambar 4.1 Tampilan LCD pada saat jenuh air
Gambar 4.1 diatas menunjukkan bahwa
pada saat kadar jenuh air 92,0%
relay dan pompa tidak aktif (tidak
menyiram).
4.4 Pengujian Catu Daya
Pengujian
dilakukan dengan cara mengukur tegangan keluaran pada kaki output IC AN7812, L7805 menggunakan multitester digital hasil
pengukuran tersebut dapat dilhat pada Tabel 4.2
Tabel
4.2 Hasil Pengujian Catu Daya
IC
Regulator
|
Tegangan
Masukan
|
Tegangan
Keluaran
|
AN7812
|
12
V DC
|
+11,85VDC
|
L7805
|
5
V DC
|
+4,95VDC
|

Gambar
4.2 Hasil pengukuran output AN7812

Gambar
4.3 Hasil pengukuran output L7805.
4.5 Pengujian Relay
Pengujian Relay dilakukan dengan
memberikan tegangan sebesar 12 volt, hasilnya dapat dilihat pada Tabel dibawah
ini.
Tabel
4.3 Hasil Pengujian Relay
Logika
|
Kondisi
Relay
|
Tegangan
|
High
|
Aktif
|
+4,93
volt
|
Low
|
Tidak
Aktif
|
0,00
volt
|

Gambar
4.4 Hasil pengukuran relay pada kondisi
aktif.
4.6 Pengujian LCD
Pengujian LCD ini untuk mengetahui
apakah LCD yang dipakai rusak atau bisa dipakai semestinya. LCD memiliki 16
kaki yang terdiri dari 8 pin jalur
data, 2 pin power suplay, 1 pin untuk mengatur kontras, dan 3 pin control. Pertama yang dilakukan
dengan memberi tegangan pada kaki power
suplay yang ada pada LCD yang di hubungkan pada rangkaian mikro, maka LCD
akan menyala seperti terlihat pada gambar 4.8 ini menandakan bahwa LCD dalam
keadaan baik

Gambar 4.5 Tampilan
LCD yang diberi tegangan
4.7 Pengujian Program
Komputer
Pengujian
perangkat lunak meliputi pengujian program computer yang dilakukan dalam
bebrapa tahap, diantaranya adalah dengan menampilkan program yang telah
tersimpan dalam dokumen dan ditampilkan pada Bascom AVR IDE.

Gambar 4.6 Membuka
file program

Gambar
4.7 Tampilan program pada Bascom AVR
Gambar 4.7
memperlihatkan tampilan program yang telah dibuat. Pengujian selanjutnya adalah
dengan meng_complie program tersebut
dengan menu yang tersedia pada Bascom AVR dan akan tersimpan dengan ekstensi
masing-masing. Program Complie ini
tersedia pada Bascom AVR, berguna untuk meng_complie bahasa file berekstensi
BAS kedalam ekstensi lain. Adapun cara penggunaannya adalah program---complie
seperti terlihat pada gambar 4.11 berikut.

Gambar 4.8 Program
compile
Dengan menu complie kita dapat meng_complie program. Program akan tersimpan
secara otomatis sebelum di complie. Adapun
keterangan beberapa contoh file yang tersimpan dapat dilihat pada Tabel 4.4
berikut
Tabel 4.4 Contoh file yang tersimpan
File
|
Keterangan
|
xxx.BIN
|
File biner dapat diprogramkan ke
dalam mikrokontroler
|
xxx.DBG
|
File Debug dapat diperlukan oleh
simulator
|
xxx.OBJ
|
File objek untuk menirukan
menggunakan AVR studio. Juga yang diperlukan oleh simulator internal.
|
xxx.HEX
|
File heksadesimal, diperlukan
oleh komputer
|
xxx.ERR
|
File kesalahan, hanya tercipta
ketika kesalahan ditemukan
|
Adapun cara
untuk menjalankan simulate program
dengan cara menekan F2 pada keyboard atau menggunakan fasilitas menu pada
tampilan Bascom AVR, dengan cara memilih menu Program---Simulate
.

Gambar 4.9 Fasilitas
simulasi Bascom AVR
Gambar 4.9 memperlihatkan cara menuju program simulasi.
Tampilan program simulasi dapat dilihat pada gambar 4.13 berikut

Gambar
4.10 Tampilan Bascom AVR Simulator
Fasilitas AVR simulator ini dapat
membantu programmer untuk menjalankan program tanpa mikrokontroler. Ponyrog2000 adalah salah satu aplikasi
pen-download program kedalam mikrokontroler. Pada perancangan ini aplikasi yang
digunakan adalah ponyprog2000 versi
2.6c.

Gambar 4.11
Ponyprog2000
Pengujian
program computer selanjutnya adalah men-download program ke mikrokontroler
dengan cara dipilih menu File_Open device file.

Gambar
4.12 Tampilan pembuka device file.
Salah satu contoh
program yang ter_complie dalam
ekstensi heksadesimal, file ini yang diperlukan oleh
mikrokontroler, dapat dilihat pada gambar 4.16 berikut :

Gambar 4.13 file
heksadesimal hasil compile
Setelah terbuka file folder, maka dipilih file hasil complie yang berekstensi HEX, dan akan
tampil file hex pada program ponyprog2000
seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 4.14 Tampilan
proses download ponyprog2000.
Tahap
selanjutnya adalah tahap pengisian program kedalam mikrokontroler yakni dengan
Menu Command_Write
All kemudian akan terjadi proses
pengisian secara otomatis dan berakhir dengan pemberitahuan bahwa program telah
berhasil terisi.
BAB V
PENUTUP
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Hasil dari tugas
akhir ini, jika sensor kelembaban ≤ 80%
maka pompa dan
relay akan aktif, dan jika sensor
kelembaban mengindra ≥ 80% maka pompa dan
relay non aktif.
5.2 Saran
1. Untuk penelitian selanjutnya
adalah menggunakan sensor yang tahan air
misalnya sensor kelembaban tanah HS-15P.
2. Pengembangan selanjutnya pada
program komputer, yakni dengan
memperhitungkan tingkat error pada sensitivitas sensor kelembaban.
